Di awal bulan Ramadhan, dimana umat muslim sedang berusaha mengendalikan hawa nafsunya, Malaysia lagi-lagi bikin ulah yg membuat rakyat Indonesia naik darah. Mereka menampilkan tari Pendet -yg adalah tarian dari BALI- dan tari Jaran Kepang -yg berasal dari JAWA TIMUR- di iklan wisata negara mereka. Siapa yg tidak geram kalo budayanya diklaim oleh orang lain? Tindakan pemerintah pun sepertinya tidak membuat rakyat puas, bahkan terkesan tidak ada tindakan yg tegas. Ini bukan pertama kalinya Malay ‘mencuri’ dari Indonesia. Awalnya pulau Ambalat, dan tidak heran kalau ternyata mereka juga mengambil pulau-pulau kecil lain yg sebenarnya ada dalam wilayah Indonesia. Lalu lagu ‘Rasa Sayange’ dari Ambon. Reog. Dan banyak lagi kebudayaan-kebudayaan kita yg mereka ambil. Apa mereka menantang Indonesia? Pernah juga kapal-kapal Malay melanggar batas wilayah Indonesia. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Dan akhirnya terjadilah kejar-kejaran dengan AL.
Oke, hal itu memang menyebalkan. Tapi apa yg harus kita lakukan? Hanya memaki-maki mereka, menyumpahi mereka, melampiaskan amarah, membuat kita kehilangan hikmah dari bulan Ramadhan yg suci ini? Tidak. Kita bisa melakukan suatu hal yg nyata, yg menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya bergeming saat kecolongan. Kita tunjukkan bahwa kita lebih baik dari mereka! Salah satunya dengan memboikot produk-produk Malay di Indonesia. Bukan dengan cara membakar pabrik atau aksi-aksi anarki lain, tpi dengan TDK MEMBELI produk mereka. Kita beli produk Indonesia, sekalian menyukseskan program pemerintah
. Trus ga usah wisata kesana. Dan kita bisa pindahkan tabungan kita dr bank Malay (ex: BII, CIMB) ke bank Indonesia (ex: BRI, Mandiri, dsb). Mungkin itu hal kecil, tapi setidaknya kita bisa menekan mereka, sekaligus memajukan bangsa. Jangan biarkan amarah menguasai kita, tapi biarkan otak kita bekerja. Dan jangan lupa berdoa pada Allah SWT.
Suatu saat nanti, kita harus bisa mengumumkan pada dunia bahwa semua itu adalah milik Indonesia. Calm down, let’s prepare for our bright future~
^^
Posted by Rei 









